Gerakan Rakyat: Whoosh Adalah Proyek Jokowi yang Melesat Cepat Menuju Utang Generasi

Oleh Admin, 26 Okt 2025
Mari kita bicara apa adanya: Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCIC) alias Whoosh, yang sejak awal diglorifikasi oleh Presiden Joko Widodo sebagai simbol kemajuan bangsa, kini justru dituding sebagai simbol kelalaian dan kesembronoan dalam pengambilan kebijakan publik.

Gerakan Rakyat, lewat perwakilannya Nandang Sutisna, menyuarakan apa yang banyak orang takut ucapkan keras: proyek ini bukan hanya mahal, tapi berpotensi menjadi bom waktu fiskal yang akan meledak bukan sekarang — melainkan di pundak anak cucu bangsa ini.

Jokowi menjual Whoosh sebagai masa depan. Tapi mari jujur: masa depan yang seperti apa ketika negara harus membayar proyek ratusan triliun hingga 60 tahun ke depan, bahkan ketika relnya mungkin sudah berkarat dan armadanya tinggal besi tua?

“Ini bukan proyek visioner. Ini kesalahan politik yang akan menjerat keuangan negara bertahun-tahun. Jokowi tidak bisa pura-pura selesai begitu saja,” kata Nandang tegas.

Rp120 Triliun, dan Bisa Lebih dari Rp130 Triliun: Angka Fantastis, Tapi Untuk Siapa?

Biaya Whoosh dilaporkan mencapai USD7,27 miliar atau sekitar Rp120 triliun, belum termasuk bunga utang. Jika restrukturisasi pinjaman ke Tiongkok dihitung, totalnya bisa tembus lebih dari Rp130 triliun.

Mari kita tanya: apakah rakyat yang masih kesulitan akses kesehatan, pendidikan, bahkan jalan yang layak, merasa kereta cepat ini menjawab kebutuhan mereka?

Atau ini hanya proyek prestise politik yang dipaksakan demi meninggalkan jejak sejarah, meski jejak tersebut berwujud beban negara?

60 Tahun Cicilan: Kereta Cepat, Utang Lebih Cepat Menyusul

Bayangkan: saat generasi mendatang bahkan tidak lagi mengenal Whoosh sebagai moda modern, negara masih tetap mencicil utangnya. Bukankah ini bentuk pengalihan masalah yang kejam terhadap generasi penerus?

“Restrukturisasi 60 tahun bukan solusi, tapi penundaan masalah yang diwariskan ke generasi berikutnya,” ujar Nandang.

Ketika keputusan politik diambil dengan gegabah, rakyatlah yang jadi korban jangka panjang. Kecepatannya mungkin membanggakan, tapi konsekuensinya sungguh menakutkan.

Ketika Jalan Desa Masih Berlubang, Ratusan Triliun Dibelokkan ke Proyek Prestise

Apakah ini proyek kebutuhan rakyat, atau sekadar simbol “kita bisa” tanpa mempertimbangkan “apakah kita perlu”? Ketika ribuan jalan rusak, jembatan darurat, dan akses publik terbengkalai, pemaksaan proyek kereta cepat terasa seperti tamparan terhadap logika kebijakan publik.

Seruan Gerakan Rakyat: Ini Harus Diusut!

Gerakan Rakyat kini mendesak KPK dan Kejaksaan Agung untuk menyelidiki potensi penyimpangan dalam proyek ini. Mereka menolak jika pemerintah mencoba melangkah pergi seolah masalahnya selesai bersama masa jabatan.

“Jokowi tidak bisa begitu saja menghindar. Ia adalah pengambil keputusan dan harus bertanggung jawab, secara hukum maupun politik,” tegas Nandang.

Whoosh Melesat, Tapi Kita Tak Boleh Diam

Proyek yang katanya membawa masa depan kini malah menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini masa depan yang ingin kita wariskan? Atau masa depan yang akan menyisakan rasa sesal yang tak kunjung selesai?

Hari ini, Gerakan Rakyat berbicara lantang. Dan mungkin, kini saatnya rakyat lainnya berhenti diam.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

 
Copyright © Warta-Andalas.com
All rights reserved